Minggu, 12 Februari 2012

GILA ITU PENTING ?


GILA  ITU  PENTING
Oleh  : Dr. Zainal  Asikin,SH, SU
A.      GILA   SEBAB
Stigma  negatif   terkadang  selalu melekat  pada  orang  gila,padahal gila  itu  adalah sebuah   kecelakaan atau  musibah,  yaitu   gila  karena    sebab    dan  gila “ sebagai    “ akibat “.
Gila   karena   sebab  adalah  sebuah  keadaan  psikologi  seorang   terganggu  disebabkan   oleh  tidak tercapainya suatu  cita  cita  atau  obsesi  dari   yang   bersangkutan.    Sedangkan  gila sebagai akibat, adalah   suatu  proses psikologi  yang  disebakan oleh terpenuhinya  keinginan yang  berlebihan  yang  mengakibatkan yang  bersangkutan  tidak kuat  melakoni  dan  mengemban  amanah  profesinya.
Suatu  saat di  Kota saya lahirlah anak  muda  bernama “ Mahmudin “    entah kenapa   dalam kesehariannya  dia  dipanggil  “ ENDING  “.     Si Endingi   ini   memang punya  obsesi  menjadi  polisi, karena   mungkin  dimata   ENDING ,polisi itu  mempunyai tugas  mulia, mengatur  ketertiban  jalan raya, berhujan panas   berada dijalanan, siang  malam memburu curanmor,nyaris kurang  tidur.Tapi   apa daya  cita  cita ENDING tidak tercapai   karena untuk  menjadi  polisi  ternyata  tidak semudah yang   dibayangkan(   perlu uang dan  koneksi),  dan itu  tidak  dimiliki  oleh  ENDING.  Karena  sebab itu  maka  si  ENDING  sedikit terganggung   jiwa  dan  raganya, berkelana di  Kota   Mataram, dengan  memakai  pakaian ala  polisi,atribut  lengkap   melebihi   pangkat   jendral, semua lambang  ada pada  pakaiannya,dan yang  paling  khas  adalah   ENDING  selalu membawa   lipri (pluuit) yang siap  siaga di tiupkan  manakala melihat  ada kemacetan di perapatan jalan di  Mataram dan  secara  serius mengatur  lalu lintas.   Tingkah   pola  Ending yang berpakaian   polisi  dan  mengatur  lalulintas  ternyata  bukan  termasuk  tindak pidana,karena  dalam   hukum hanya orang  waras yang  bisa  dikenakan   sanksi hukum.   Jangan  coba  coba  jika anda  yang  waras  menggunakan  pakaian   polisi,maka anda akan ditangkapsebagai  polisi gadungan.
Apa yang dilakukan Ending  dalam keterganggun jiwanya   ternyata  bagi  saya waktu itu  sangat bermanfaat,apalagi   waktu  itu di   Kota  Mataram belum ada  trafiq  light  sehingga keberadaan ENDING  sangat   penting di  saat  petugas   tidak   ada ditempat.   Gila  sebagai     sebab “   secara akademis  bisa diobati  secara  perlahan  dengan  memberikan  seseorang  kepercayaan  melakoni  tugas itu dan biarkanlah  ia  melakoinya  dengan  penuh  kasih dan tidak mencemohnya,maka niscaya sesorang  akan pulih.Nah proses itu  dialami  oleh  ENDING setelah  bertahun tahun mejadi polisi  jalanan,maka perlahan lahan  megalami kesembuhan,  dan oleh   Jajaran  Gubernur  ( sejak Gatot    Soeherman    sampai  Warsito),Si ENDING diangkat  menjadi   “tenaga honorer”   dengan  pakaian dinas   coklat   yang tidak  lagi   penuh atribut  Jendral.   Kesadarannya   mulai pulih  dan sangat rajin   bekerja,  dan tentunya   rajin minta rokok  kalau orang yang dikenalnya   datang ke Kantor  Gubernuran.
Satu  yang   saya  ingin  katakan bahwa “ Gila  karena sebab “ tidak  selalu memiliki stigma  negatif,teryata  keberadaan orang seperti  ini   penting dan  harus  ada  sebagai  pengingat  kita pada  Tuhan,  bahwa dalam  bercita cita  ukurlah   kemampuan kita agar  tidak kandas dikemudian hari.

 B.GILA  AKIBAT
                Penomena gila  yang  kedua, adalah   gila  akibat. Yaitu  suatu  kondisi   seorang  yang   sehat secara pisik daN  PSIKOLOGIS       tetapi akibat   terpenuhinya seluruh kebutuhannya   secara berlimpah  yang   tidak  pernah  dirasakan dan tidak bayangkansebelumnya,   kemudian orang ini  menjadi  lupa  diri,  lupa  teman,lupa kewajiban   dan lupa  pada Tuhannya.   Gila  model   kedua ini lebih berbahaya  ketimbang  ENDING,karena orang seperti  ini  telah kehilangan kesadaran dan  jati dirinya,telah lupa  akan  masa  lalunya  sehingga   dengan “   kekuasaan  dan harta yang dimilikinya” dia   berusaha  menjadi “hero”,  membunuh saingan  politik,  menyuap,menyogok, dan  lupa segalanya.
                Suatu  saat  saya  diajak menghadiri  suatu pemakaman  seorang  Ibu  yang  hidup  sendiri dan dirawat  oleh ponakanya.  Saya tidak mengenal   almarhumah,tetapi  yang  mengagetkan  saya para  pengantar  jenazah  sangat   banyak,nyaris tidak bisa  menampung   area   pemakaman.   Dan   hampir    semua   pelayat  menangis  tentunya  sebagai  tanda berkaung  dan  duka yang dalam.
                Saya  tidak  mau  bertanya   mengapa pemakaman itu  begitu  “duka”. Akhirnya   dalam  perjalanan  pulang   saya  bertanya teman itu,mengapa pemakaman tadi berlinang  air  mata  ?
                Teman saya  kemudian  bercerita,bahwa   almarhumah ini memiliki   satu  satunya  Putra   ,dan   sekarang menjadi  pengusaha  sukses di  Jakarta, kaya raya, istri  cantik, dan sibuk  sudah tentu, sampai sampai  ketika  ibunya  sakit,meninggal  dan  pemakaman tidak  sempat  hadir.  Mendengar   cerita itu saya tercenung  dan tak terasa airmata  saya meleleh.    Dan sampai dirumah saya   mencium ibu yang   telah sepuh....dengan berbisik...saya   harus   tetap   disisinya.
                 Saya   tidak  ingin  menjadi  Gila   Akibat, dan menjadi sukses  di   Jakarta   dan  melupakan  segalanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar